cerita pendek
Cerpen: Payung di Hari Hujan
Langit sore itu mendung. Awan hitam menggantung seakan menyimpan beban berat. Di depan sekolah, Rani berdiri gelisah. Ia lupa membawa payung, sementara hujan sebentar lagi akan turun. Teman-temannya satu per satu sudah pulang, sebagian dijemput orang tua, sebagian lagi berlari sambil membawa jas hujan.
Tak lama, hujan deras benar-benar turun. Rani terpaksa berteduh di beranda sekolah, memeluk tasnya yang sudah mulai lembap. Ia menarik napas panjang, menahan dingin yang menusuk.
“Kenapa tidak pulang?” suara seorang anak lelaki tiba-tiba terdengar. Rani menoleh. Itu Bima, teman sekelasnya yang terkenal pendiam.
“Aku lupa bawa payung,” jawab Rani pelan.
Bima tersenyum kecil, lalu membuka payung biru tua di tangannya. “Kalau begitu, kita pulang bersama. Rumahmu searah, kan?”
Rani sedikit terkejut, namun mengangguk. “Iya… searah.”
Mereka pun berjalan berdua di bawah satu payung. Jalanan becek, udara dingin, tapi hati Rani hangat. Ada rasa nyaman yang tidak bisa ia jelaskan. Sesekali Bima memiringkan payung agar Rani tidak terkena tetes hujan, meski bajunya sendiri sedikit basah.
“Terima kasih ya, Bim,” ucap Rani saat mereka hampir sampai di rumahnya.
Bima hanya tersenyum, menatap hujan yang masih deras. “Sama-sama. Besok jangan lupa bawa payung lagi.”
Rani tertawa kecil. Hujan sore itu mungkin membuat jalanan basah, tetapi juga meninggalkan kenangan manis yang akan selalu ia ingat: tentang sebuah payung biru, dan seorang teman yang diam-diam peduli.
Komentar
Posting Komentar